BELITUNG, MB1 // Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Tanjungpandan bersinergi dengan Yayasan Sosialisasi Kanker Indonesia (YSKI) melaksanakan kegiatan sosialisasi kesehatan tentang kanker dan tumor yang digelar di Aula Bapas Tanjungpandan Kegiatan ini diikuti oleh jajaran petugas, peserta magang, serta perwakilan Klien Pemasyarakatan sebagai bagian dari komitmen bersama dalam membentuk aparatur yang sehat, produktif, dan berintegritas, Rabu (01/04/2026).
Kepala Bapas Tanjungpandan melalui Kepala Urusan Tata Usaha, Yovie Agustian Putra, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan YSKI menjadi langkah strategis dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, khususnya dari aspek kesehatan yang berdampak langsung terhadap kinerja organisasi.
“Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi nyata antara Bapas Tanjungpandan dengan YSKI dalam membangun kesadaran kesehatan bagi seluruh jajaran. Aparatur yang sehat akan mampu bekerja lebih optimal, disiplin, dan memiliki daya tahan dalam menjalankan tugas pelayanan publik,” ujar Yovie.
Ia juga menekankan bahwa pembinaan kepegawaian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi, tetapi juga menyangkut kesiapan fisik dan mental pegawai.
“Kesehatan adalah fondasi utama dalam pelaksanaan tugas. Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh pegawai memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjaga kesehatan diri, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas kinerja dan pelayanan,” tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, narasumber dari YSKI, Salsabila memberikan pemaparan yang komprehensif terkait penyakit kanker dan tumor. Ia menjelaskan bahwa kanker merupakan penyakit yang berkembang secara bertahap dan sering kali tidak disadari karena gejala awalnya cenderung ringan dan diabaikan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap kondisi tubuh serta kewaspadaan terhadap perubahan sekecil apapun menjadi hal yang sangat penting.
Mengacu pada data global, angka kejadian kanker di Indonesia tergolong tinggi dan terus mengalami peningkatan, sehingga diperlukan langkah preventif yang dimulai dari individu itu sendiri. Salsabila menjelaskan bahwa faktor pemicu kanker tidak hanya berasal dari faktor genetik, tetapi juga dipengaruhi oleh pola hidup yang kurang sehat, seperti konsumsi makanan tidak seimbang, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta paparan zat berbahaya dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan kanker. Banyak kasus kanker yang dapat ditangani dengan baik apabila ditemukan pada tahap awal. Ia mencontohkan beberapa jenis kanker yang umum terjadi seperti kanker serviks, kanker payudara, dan kanker prostat yang sebenarnya memiliki tanda-tanda awal yang bisa dikenali jika masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup.
“Kanker bukan penyakit yang harus ditakuti, tetapi harus diwaspadai. Semakin dini kita mengenali gejalanya, semakin besar peluang untuk sembuh. Edukasi seperti ini penting agar masyarakat tidak datang dalam kondisi sudah terlambat,” jelas Salsabila.
Ia juga menekankan pentingnya membangun pola hidup sehat secara konsisten sebagai langkah pencegahan yang paling efektif. Menurutnya, menjaga asupan makanan bergizi, rutin berolahraga, mengelola stres, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala merupakan langkah sederhana namun berdampak besar dalam menekan risiko kanker.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dengan gaya hidup sehat dan kesadaran untuk melakukan deteksi dini, kita bisa meminimalisir risiko kanker secara signifikan,” tambahnya.
Kegiatan berlangsung dengan interaktif dan penuh antusiasme, di mana peserta aktif mengikuti jalannya sosialisasi hingga sesi tanya jawab.
Melalui kegiatan ini, Bapas Tanjungpandan berharap dapat memperkuat sinergi dengan berbagai pihak sekaligus membangun budaya kerja yang sehat, adaptif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan.
(HUMAS LAPAS TANJUNGPANDAN/RED MB1)



















