CILEUNGSI – BOGOR, MB1 II Pemerintah Desa Mampir, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, menyatakan kesiapsiagaannya dalam penanggulangan penyakit Tuberkulosis (TB) dengan menggelar kegiatan advokasi desa siaga TB yang berlangsung di Aula Desa Mampir, Pada Jumat (30/01/2026).
Kepala Desa Mampir, Asep Supini, mengatakan bahwa program desa siaga Tuberkulosis merupakan bagian dari program Pemerintah Pusat yang bertujuan membentuk Satuan Tugas (Satgas) TB di tingkat desa guna mencegah dan menekan angka penyebaran penyakit menular tersebut.
“Di wilayah Kecamatan Cileungsi terdapat tiga desa yang dijadikan percontohan dalam penanggulangan TB, dan Desa Mampir menjadi salah satunya,” ujar Asep Supini.

Menurutnya, secara teknis penanganan TB dilakukan dengan pendekatan pengobatan intensif bagi penderita agar penyakit tersebut tidak berkembang menjadi wabah di lingkungan masyarakat. Mengingat TB merupakan penyakit menular, penanganannya harus dilakukan secara serius, terstruktur, dan berkelanjutan.
“Karena kategori penyakit ini menular, maka harus ditangani secara maksimal,” tegasnya.
Lebih lanjut, Asep Supini mengungkapkan bahwa berdasarkan data dan informasi yang diterimanya, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi di dunia dalam jumlah penderita Tuberkulosis. Oleh karena itu, ia berharap Desa Mampir dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam upaya pencegahan dan penanggulangan TB.
“Kami berharap Desa Mampir bisa menjadi percontohan desa lain dalam mengatasi penyakit TB ini,” ungkapnya.
Namun demikian, Kades Mampir juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama faktor psikologis dan ekonomi penderita. Rasa malu serta biaya pengobatan jangka panjang selama kurang lebih enam bulan kerap menjadi hambatan utama dalam proses penyembuhan.
“Masih ada penderita yang malu untuk berobat dan terbentur biaya pengobatan jangka panjang,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Desa Mampir terus melakukan sinergi dengan Puskesmas, para Kepala Dusun (Kadus), serta unsur terkait lainnya dalam upaya pendampingan dan pemulihan penderita TB.
“Kami bersinergi dengan Puskesmas dan para Kadus untuk memastikan penderita TB mendapatkan pengobatan, pendampingan, serta asupan makanan bergizi secara gratis agar proses penyembuhan berjalan optimal,” pungkas Asep Supini.
(RQ)



















