Beranda / UMUM / Nyimas Hari Ibu 2025, Refleksi Perjuangan Ibu Pengasuh Anak Disabilitas

Nyimas Hari Ibu 2025, Refleksi Perjuangan Ibu Pengasuh Anak Disabilitas

JAKARTA, MB1 II Peringatan Hari Ibu 2025 kembali menjadi momentum refleksi terhadap peran strategis perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Di tengah perayaan yang kerap berlangsung seremonial, perhatian publik diarahkan pada kelompok ibu yang selama ini jarang tersorot, yakni mereka yang mengasuh anak penyandang disabilitas.

Aktivis perempuan Nyimas Sakuntala Dewi menilai, Hari Ibu tidak semestinya dimaknai sebatas simbol penghormatan tahunan. Mengacu pada tema Hari Ibu Sedunia 2025, “Mothers at the Heart of Families and Societies”, ia menegaskan pentingnya menjadikan peringatan ini sebagai ruang evaluasi sosial atas beban nyata yang dipikul para ibu, khususnya dalam keluarga dengan anak disabilitas.

“Anak disabilitas memiliki tantangan masa depan yang tidak ringan. Namun, perhatian terhadap perjuangan ibu yang mendampingi mereka masih sangat terbatas,” ujar Nyimas, Senin (22/12/2025).

Menurut alumnus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) tersebut, para ibu dengan anak disabilitas menghadapi tekanan berlapis, mulai dari persoalan ekonomi, keterbatasan akses layanan pendidikan dan kesehatan, hingga stigma sosial yang masih kuat. Kondisi itu menempatkan mereka pada posisi rentan, baik secara fisik maupun psikologis.

Ia menambahkan, beban emosional paling berat kerap muncul dalam bentuk kecemasan jangka panjang mengenai keberlangsungan hidup dan perlindungan anak ketika sang ibu tidak lagi mampu mendampingi.

“Banyak ibu yang hidup dengan kekhawatiran yang sama setiap hari: apa yang akan terjadi pada anak saya jika suatu saat saya tidak ada?” katanya.

Dalam rangkaian refleksi Hari Ibu 2025, Nyimas juga menyampaikan puisi bertema pengorbanan seorang ibu. Ia menyebut puisi tersebut sebagai representasi realitas sosial tentang kesunyian perjuangan ibu yang kerap luput dari perhatian, terutama mereka yang berada di kelompok marjinal.

Nyimas menilai, negara dan masyarakat masih cenderung memposisikan pengasuhan anak disabilitas sebagai urusan privat keluarga. Padahal, isu tersebut menyangkut tanggung jawab negara dalam menjamin keadilan sosial, pemenuhan hak asasi manusia, serta penyusunan kebijakan publik yang inklusif.

“Ibu-ibu ini adalah pilar ketahanan keluarga sekaligus pahlawan tanpa panggung. Mereka berjuang bukan hanya melawan keterbatasan pribadi, tetapi juga sistem yang belum sepenuhnya berpihak,” tegasnya.

Ia berharap peringatan Hari Ibu 2025 dapat mendorong lahirnya empati kolektif dan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan keluarga dengan anak disabilitas. Penghormatan terhadap ibu, menurutnya, harus diwujudkan melalui dukungan nyata berupa perlindungan sosial, akses layanan dasar yang setara, serta lingkungan yang bebas diskriminasi.

“Memuliakan ibu berarti memastikan negara dan masyarakat hadir, sehingga mereka tidak berjuang sendirian,” pungkas Nyimas.

 

 

(Imron/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *