Beranda / PERISTIWA / Para Petani Sampaikan Keluhan Pesawahan Kurang Air Akibat Pembangunan PK 13 di Reses DPRD di Klapanunggal

Para Petani Sampaikan Keluhan Pesawahan Kurang Air Akibat Pembangunan PK 13 di Reses DPRD di Klapanunggal

KLAPANUNGGAL – BOGOR, MB1 // Dalam Reses DPRD Kabupaten Bogor Dapil II yang diadakan di Kecamatan Klapanunggal, para petani menyampaikan keluhannya terkait pesawahan yang mengalami krisis air irigasi. Hal ini disampaikan oleh Sanukri atau yang akrab disapa Oking, petani asal RT 11 RW 05 Desa Bojong. Rabu, (15/7/26).

Usai kegiatan reses, Oking kepada awak media mengaku mewakili keresahan para petani yang selama beberapa bulan terakhir mengalami kesulitan memperoleh pasokan air untuk lahan persawahan. Menurutnya, kondisi tersebut mulai dirasakan setelah adanya pembangunan Perumahan Pesona Kahuripan 13 (PK 13).

“Aliran air dari Kali Cibarengkok-Cilalai yang selama ini dimanfaatkan untuk mengairi sawah warga kini tidak lagi mengalir. Akibatnya, lahan pertanian yang digarap masyarakat mengalami kesulitan air sehingga musim tanam terganggu,”Kata Oking.

Oking mengaku, dahulu sudah beberapa kali mengajukan ke pihak pengembangan perumahan itu, namun tidak sesuai harapan para petani, pasalnya, sambung Oking, pasokan air irigasi tak kunjung sampai ke pesawahan.

“Janjinya nanti musim kemarau pun air tetap mengalir. Tetapi sekarang justru airnya tidak mengalir. Saluran yang dibuat juga tidak sesuai kebutuhan karena terlalu kecil dan posisinya seperti menggantung, jadinya air tidak sampai ke sawah,” ujar Oking.

Menurut Oking, kondisi tersebut sangat berdampak terhadap lahan pertanian yang diperkirakan mencapai lebih dari 100 hektare. Ia mengaku para petani kini kesulitan melanjutkan masa tanam setelah panen terakhir.

“Hampir lima bulan kami tidak bisa menanam lagi. Biasanya selesai panen langsung tanam lagi. Sekarang sebagian petani yang sudah menebar benih juga khawatir tidak bisa melanjutkan karena airnya tidak ada,” katanya.

Ia menjelaskan, sebelum persoalan tersebut terjadi, petani di wilayahnya mampu melakukan dua hingga tiga kali musim tanam dalam setahun. Namun saat ini, menurutnya, produktivitas pertanian terancam menurun karena keterbatasan pasokan air.

Oking juga mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Desa Bojong, Kecamatan Klapanunggal, Babinsa, Bhabinkamtibmas, UPT Pengairan hingga Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor.

Meski demikian, ia menilai hingga kini belum ada solusi yang mampu mengembalikan aliran air ke area persawahan seperti harapan para petani.

“Kami sudah mengadu ke berbagai instansi, bahkan pernah datang bersama petani dan dinas terkait. Memang ada respons akan dibuat saluran, tetapi menurut kami hasilnya belum sesuai harapan karena air tetap belum mengalir ke sawah,” ungkapnya.

Menurut Oking, sebagian besar petani di wilayah tersebut merupakan petani penggarap yang menggantungkan penghasilan dari hasil panen. Karena itu, terganggunya irigasi dinilai sangat memengaruhi perekonomian mereka.

Ia berharap aspirasi yang telah disampaikan dalam forum Reses DPRD Kabupaten Bogor dapat segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah bersama instansi terkait, termasuk mencari solusi atas persoalan irigasi yang dikeluhkan petani.

“Harapan kami sederhana, hanya ingin bisa bertani lagi seperti dulu. Mudah-mudahan keluhan para petani ini segera mendapat perhatian dan solusi sehingga sawah kembali bisa ditanami,” tutup Oking.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengembang Perumahan Pesona Kahuripan 13 belum memberikan tanggapan atas keluhan petani.

 

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *