KOTA MANADO, MB1 // Dalam setiap perjalanan sejarah, selalu ada tempat-tempat sederhana yang kelak dikenang sebagai saksi lahirnya sebuah gagasan besar. Bukan gedung yang megah, bukan ruang rapat yang mewah, melainkan ruang-ruang kebersamaan yang dipenuhi semangat pengabdian.
Bagi masyarakat Nusa Utara di Kota Manado, kawasan Pelabuhan Manado menyimpan cerita yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan organisasi kemasyarakatan Nusa Utara. Di bawah pohon yang teduh di sekitar loket penjualan tiket Kapal KM Alsudais 21, di Rumah Kopi Pitoy, dan di kawasan Rumambi Calaca, banyak tokoh Nusa Utara berkumpul, berdiskusi, bertukar pikiran, bahkan berbeda pendapat. Dari ruang-ruang sederhana itulah lahir gagasan tentang pentingnya membangun wadah yang mampu menyatukan masyarakat Nusa Utara. Hal tersebut di paparkan oleh Erson Tundundatu Selaku pengurus DPP KMNU-I Bidang Sosial dan kemanusiaan bertempat di rumah kopi pitoi Jalan rumambi Manado Sabtu (25/7/2026).
Masih kata Erson, Tempat-tempat tersebut menjadi saksi sejarah lahirnya berbagai pemikiran yang kemudian berkembang menjadi bagian dari dinamika serta proses pendewasaan gerakan masyarakat. Kemudian Perbedaan pandangan yang pernah terjadi tidak seharusnya dipandang sebagai perpecahan, melainkan sebagai bagian dari proses demokrasi dalam mencari bentuk perjuangan yang dianggap paling tepat.
Dalam perspektif politik kebangsaan, sebuah organisasi masyarakat akan memiliki kekuatan apabila mampu membangun modal sosial, yaitu kepercayaan, persatuan, dan solidaritas. Politik bukan sekadar perebutan jabatan atau pengaruh, tetapi seni memperjuangkan kepentingan masyarakat secara terhormat.
“Oleh karena itu, kekuatan politik masyarakat Nusa Utara tidak akan lahir dari banyaknya organisasi, melainkan dari kemampuan dari seorang Yusak Walo SE, Penggagas terbentuknya Ormas Komunitas Masyarakat Nusa Utara Indonesia ( KMNU- I dalam menyatukan langkah dan menyamakan tujuan,”Ucap Erson.
Kini, estafet sejarah itu berlanjut di Daseng Pantai Karangria. Jika Loket tiket KM.Alsudais 21 pimpinan perusahaan Yusak Walo bertempat di jalan Rumambi Calaca menjadi tempat lahirnya gagasan, maka Daseng Pantai Karangria menjadi ruang konsolidasi. Disana para tokoh senior dan generasi muda duduk bersama, mengesampingkan ego, memperkuat persaudaraan, serta merumuskan langkah-langkah nyata untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Nusa Utara.
Sejarah telah mengajarkan bahwa masyarakat Nusa Utara akan memiliki posisi yang kuat dalam kehidupan sosial, pembangunan, dan politik apabila mampu berbicara dengan satu semangat. Bukan untuk menguasai, tetapi untuk menghadirkan gagasan, memberi kontribusi, dan memastikan aspirasi masyarakat Nusa Utara mendapat tempat yang layak dalam pembangunan daerah maupun nasional,”Ungkapnya.
Diakhir percakapan dengan Erson Tundundatu Selaku pengurus DPP KMNU-I Menyampaikan, “Biarlah Pelabuhan Manado, Loket tiket KM.Alsudais 21 di jalan Rumambi, Rumah Kopi Pitoy, dan Daseng Pantai Karangria dikenang sebagai mata rantai sejarah perjalanan persatuan masyarakat Nusa Utara. Dari tempat-tempat itulah lahir tekad bahwa perjuangan tidak boleh berhenti pada perbedaan organisasi, tetapi harus bermuara pada satu cita-cita: mengangkat harkat, martabat, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Nusa Utara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,”Pungkasnya.
(Johanis Kaperwil Sulut)


















